Cerpen: LASKAR CINTA

Aku ingin menikah dan tentunya mencari istri sempurna, tak terasa ternyata lelah hati menantinya. Aku harus terus berusaha mencari dan mencari, namun sampai detik ini alhasil aku tak sanggup menemukan belahan jiwa yang sesuai dengan kreteria.

Setiap hari aku berdoa, bersujud memohon pujaan hati. Tak jarang aku juga tebar pesona, Namun namun  aku belum temukan tambatan hatiku, aku mulai lelah….

Aku pikir  mungkin inilah perjuangan.

“ Hidup penuh perjuangan Akh…! “ hatiku mantap.

Yah…hidup memang sebuah perjuangan. Dimana dulu aku pernah berjuang, sebelum aku menjadi manusia. Aku pernah hidup sebagai air hina yang disebut Sperma, dimana aku berjuang dengan ribuan sperma lain dengan satu tujuan untuk membuahi ovarium.

Dan diantara ribuan itu akulah yang menjadi pemenang dan menjadi diriku sekarang. Jadi tak ada alasan aku untuk berhenti berjuang.

Lama-lama aku menikmati kesendirian ini, walaupun jujur kuakui aku mulai jemu dengan kehidupanku yang kusebut dengan “perjuangan” , hatiku mulai meraung-raung dalam kesunyian.

Aku kesepian…. Aku ngantuk!!!!!!!!!!!!!!

Sungguh….

Ternyata dunia ini fatamorgana, aku mencoba menghindar dari gundukan asa, namun lalat-lalat hasrat sesekali berduyun mendekatiku. Sekuat ruh aku berlari-lari menuju cahaya, dan konon salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri.

“Ya….seorang istri” angganku melayang, senyumku mengembang.

Aku mencari istri sempurna, agar aku bisa menyempurnakan niatku untuk bersendau gurau dan bercengkrama dengan cahaya sejati. Istri yang cantik sebagai penyejuk mata.

Aku bergelut dengan hari-hari yang membuatku lelah, lelah mencari secercah cahaya untuk bisa aku huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hatiku. Aku akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa kita singkap keberadaannya, tak mampu aku teliti satu persatu apa gerangan rahasia yang diinginkan Allah.

Tadinya aku berpikir bahwa aku telah mampu meredam satu niatanku itu, mengubur riak-riak kehidupan yang aku bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakkan telingaku, lalu aku mulai kembali terpuruk, pikiranku makin terhuyung-huyung melangkahkan kakiku yang tak tentu arah.

Mataku pedih, pikiranku terbang….

Yah, saat ini ….

Aku bertemu dengan seseorang yang menurutku sempurna bagaikan “melati putih yang suci”.  Di taman hati ku ia mulai hidup dan kusirami  sendiri. Warnanya yang kudus membuat mata terkagum-kagum dan sejuk.

Lesung pipitnya menghiasi pipi yang halus, senyumannya membuatku bagai diawang awang.

Satu lagi keistimewaannya yaitu balutan jilbab dan seuntai gamis menutupi auratnya. Sungguh sempurna ! Ingin rasanya aku mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan embun keinginan setiap makluk yang disebut ikhwah.

Akhirnya kutemukan tambatan hati penyemangat hidup “melati putihku”.

Sang melati suci tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. “Ya Robb…. harum sekali ” hatiku mulai berdesir.

Ketika pagi merambat, aku merasakan keharuman yang luar biasa. Seolah merambat keseluruh ubun-ubun “ keharuman yang menakjubkan….” Aku mulai memberanikan diri untuk menyapanya.

"Assalammu’alaikum.….!!!!!"  Melatiku tersenyum, senyum yang menjadi oase.

"Wa’alaikumu salam… Ada apakah gerangan ? sehingga pagi-pagi begini akhi bertamu ke taman ini?" mata beningnya seolah menusuk tajam hatiku, INDAH….

"Afwan, ana berniat mencari istri yang “sempurna”  Setiap hari tanpa sepengetahuan ukhti, ana mengamati ukhti, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Ukhti telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Ana pikir ukhtilah yang ana cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hati ana untuk hidup dalam kembara." Kata kata hatiku seolah meluncur begitu saja.

"Betulkah ana yang akhi cari? Tak malukah antum menikah dengan “ bunga sederhana” seperti ana ini ? Apa yang membuat akhi terkagum? Tak banyak yang bisa ana berikan untuk akhi."

"Sudah lama ana mencari istri yang sempurna. Mungkin… ukhtilah harapan terakhir. Melihat ukhti yang mempunyai wajah yang bersemu merah, ana mulai terkesima. Jika ukhti mengizinkan, ana ingin melamar ukhti. Mari kita arungi bahtera hidup ini bersama " ungkapku tanpa tedeng aling-aling.

"Kalau betul itu yang akhi inginkan, baiklah. Tunggu beberapa waktu, setelah itu jenguklah ana kembali."

"Terimakasih….” Ternyata aku tak salah pilih, aku akan kesini.” janjiku

Aku lantas meninggalkannya sendiri di taman hati. Aku pergi diiringi senyum yang dramatis. Hatiku seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian ku berakhir, aku akan  mendapatkan istri yang sempurna.

Seminggu berlalu sebulan telah berganti aku mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika ku tiba di tempat itu, tiba-tiba hatiku melumpuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Melati yang akan ku persunting, yang akan kupetik ternyata tak lagi berada di tangkainya.

Hatiku telah luruh ke tanah merah hatiku jatuh beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya.

Aku tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi?

Warna yang tadinya putih bersih, kini berubah seolah berubah kuning kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Salahkah pandangan mataku ? Aku menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta gula gula. Dengan terbata-bata aku berusaha menyusun kata-kata, menguntai kalimat-kalimat. Namun mulut kuteramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf.  Aku rasa aku mulai bisu.      

"Assalammu’alaikum. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah ana, sang melati yang sempat membuat akhi terkagum. Mengapa wajah akhi tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?" untaian kata-katanya rasanya tak manpu lagi aku cerna.

"Mengapa ukhti menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"

"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. ana hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus ana jalani."

"Tapi hamba mencari istri yang sempurna,  Melati….!!!!!!!" jeritku

"Jika demikian, ana bukanlah belahan jiwa akhi…."

Aku beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang ku bangun. Air mata menderas.

Melati yang sempat mencengkram jiwa, kini  hanya onggokan ketakutan yang tak pernah aku mimpikan sebelumnya.

Ternyata Melati adalah gadis buta….yang hanya mempunyai satu tumpuan yaitu kaki sebelah!! Kecelakaan pagi yang indah dulu telah merengut keindahannya. Mata indahnya harus ia relakan karena pecahan kaca, kaki kanannya ia ikhlaskan untuk terus melanjutkan hidupnya. Maafkan aku melati….!

 ***

Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, kumelihat nuri yang terbang, menari di udara. Sayap-sayap kecilnya seolah ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga ku bisa mendapatkannya. Nuri itu hinggap di ranting pohonan. Aku coba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Wahai Nuri, tadi aku melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu indahmu yang berkilau, menjadikan harapan dalam batin ku kembali tumbuh." Aku mulai mengungkapkan bahasa hati.

 "Apa yang hendak anda inginkan?" jawab nuri dengan suara merdu mendayu.

 "Aku mencari istri yang sempurna. Kamulah yang kucari."

 "Betulkah aku yang anda cari?"

 "Ya tentu. Aku ingin anda terbang bersamaku, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."

 "Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."

 "Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap  mu? Nuri kamu mempunyai dua sayap yang indah dan memesona,sedangkan aku hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya aku adalah pemimpi yang akut dengan kehidupan."

 "Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, aku ingin bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

Aku tak bisa berkata banyak, Nuri telah terbang bersama angin. Angin, oh...rupanya kekasih sejati nuri adalah angin. Aku  tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau aku dengan paksa menikahi sang nuri ? Dunia akan mencemooh aku sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi aku harus mencari pasangan jiwa?

Nuri telah terbang tinggi….!!!!

Nuri adalah wanita sempurna yang juga menginginkan laki-laki yang sempurna seperti angin.

****

Itulah kabarku dulu? pindah dari satu ke satu lagi untuk mendapatkan kesempurnaan hati.

Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar didasar palung jiwa ku.

Itulah gelagat ku dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa.

Begitu juga aku….

Ya, kabar ku dulu! Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu aku tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Aku nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut ku memukul angin.

Sampai suatu malam…

Ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu ku tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Aku dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan.Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar... !!!!! padahal HP-ku tergolong murahan, bukan HP mahal yang bisa bicara, teriak teriak dan melantunkan lagu lagu ter -HITS.

Kontan saja aku terhenyak dan sempat kaget. Aku mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton besi. Di dinding kamar ku melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu aku mulai merunut kata-kata.

"Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan ku ? Biarkan aku beristirah barang sejenak." Hening, tak ada jawaban.

Aku pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika aku mau menutup telepon selular, aku  mendengar suara yang menggelegar.

Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, airmata tak bisa ku bendung, dan rasa rindu mencengkram ku dari belakang, rindu yang tak terdefinisi.

“Mungkinkah doa-doa ku yang terdahulu akan terkabul?”

“Siapakah gerangan yang bicara? “

Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, aku harap secercah cahaya itu yang bicara .Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara.  Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini.

"Betulkah kau mencari istri yang sempurna?"

Dengan terbata-bata  aku menjawab "Ya...ya..aku mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan ku yang belum terwujud ini?" Suara itu kembali berujar.

"Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Ku ikuti keinginannya.

Aku tutup mataku, dan berbaringlah. Riangnya hati ku, sebentar lagi aku akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh ku akan hadir. Ah, suara itu hening. Aku mulai memicingkan mata. Aku lihat disekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian ku melihat pakaian ku. Putih! Semua serba putih.

Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir ku.

Lalu aku melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan.

"Siapa anda?"

"Aku adalah amalan anda. aku tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Menikahlah denganku, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."

Aku tersentak dalam kesadaran.

“Astaqhfirulloh….” Aku terengah-enggah….

Terasa seluruh tubuhku lemas. Aku terbangun dari mimpi, kulihat sekelilingku yang bisa kupastikan adalah kamar tidurku.

Aku bernafas lega karena aku masih diberi hidup, mimpi yang begitu membuatku bener-bener merasa takut. Ternyata kematian begitu menakutkan, karena belum cukup bekal yang akan aku bawa menghadapNya.

“Huh…. “ desahku lega.

Aku lihat HP manis yang slalu menemani tidurku, kulihat ada Pesan masuk dan kubuka.

Ass…akh, gimana tawaran ana kemarin ? ane harap antum tidak menolaknya lagi . Fahri….

Sms dari murobbiku.

Teringat bahwa besuk adalah batas waktu aku memberi jawaban proposal nikah yang 2 minggu lalu beliau ajukan.

Yah…untuk ukuran ikhwah aku memang sudah harus menikah, 27 tahun umurku. Aku sudah pantas menikah apalagi aku sudah mempunyai maisyah / pekerjaan yang bisa dikatakan mapan.

Sudah sekian kali aku menolak beberapa proposal nikah setelah aku membaca biodata nya. Aku merasa tidak ada yang sesuai dengan kreteriaku.

Aku menginginkan seorang istri yang sholehah pastinya, dengan pendukung pendidikan yang tinggi yang setara denganku minimal S1, cantik menurutku adalah relatif yang penting sudah Tarbiyah minimal 5tahun dan mempunyai Mutarobbi. Aku ingin istri yang aktif dalam dakwah ini, sebenarnya tidak muluk muluk keinginanku tapi proposal yang diajukan tidak sesempurna seperti yang kuharapkan.

“Ah….mimpi tadi mungkin jawaban dan peringatan untukku” Kuingat lagi calon istri yang diajukan murobbi 2 minggu yang lalu, akhwat berumur 35 tahun, tarbiyah 10 tahun, pendidikan SMP, aktifis dakwah yang cukup tangguh. Anak pertama dari 12 bersaudara, pekerjaan tidak tetap. Wajah menurutku kurang dari nilai 6.

“Jjujur, Tidak ada minat meneruskan lagi….!!! “ keluhku dalam hati.

Mimpi…. Aku teringat mimpi itu lagi, apakah inilah akhir dari pencarianku? Mungkin ini petunjuk dari istikharohku ?

Ah….aku mulai merasa begitu letih mencari bidadariku, apakah aku harus terima proposal nikah kali ini?

Puziiiiiiiiiiiing….!?!!!!!

Aku teringat mimpiku ….

Ada sesuatu yang mengalir dalam sanubari yang pasti kemantapan didasar hati.

****

Tak terasa sudah 1 tahun usia pernikahanku, saat ini aku sedang menggendong seorang jagoan kecil yang baru saja aku adzankan. Putra pertama kami AYYASH AL MUJAHID, aku telah diberikah seorang anak dari istri yang sholehah.

Zumirah yang sah kunikahi 1 tahun yang lalu, sekarang aku telah pindah status menjadi seorang suami sekaligus Ayah. Bukan jomblo pencari cinta….

Ada sesuatu yang tak terungkapkan oleh kata-kata, ternyata tak semua yang kita anggap sempurna itu yang terbaik menurut Allah. Siap menerima kekurangan orang lain adalah sebuah harga yang harus kita gadaikan, untuk meraih kebahagiaan.

Duh…Ternyata Indah saling menerima kekurangan dan kelebihan orang lain.

“Wanita sempurna juga akan mencari laki-laki yang sempurna. Apakah kita sempurna dimata mereka? ternyata tidak…!”

Begitulah kabar ku kali ini. Ada lagi yang mau mencari istri sempurna? sia sia….Istriku bukan sarjana, dia Cuma seorang wanita yang kurang beruntung hingga ia harus puas sekolah sampai bangku SMP. Tapi dia adalah dosen yang paling berharga buatku. Ilmu tanpa batas, bukan diukur dari berapa tinggi status pendidikannya.

Trima kasih ya Allah atas mimpi indahnya malam itu ????

Oleh: Asy-syifa’ Niyaz 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *