Makna Sebuah Pengorbanan

Tatkala nabi Ibrahim telah lama menunggu lahirnya seorang anak yang akan menjadi penerusnya kelak selama delapan puluh tahun, membuat beliau gelisah. Hingga ketika usianya telah lanjut, Allah SWT mengkaruniakannya seorang anak yang alim, yaitu Ismail.

Penantian yang begitu lama ternyata berakhir sudah. Kebahagiaan yang dirasakannya sangat luar biasa. Akan tetapi sejak itu ia diuji dengan berbagai cobaan. Dimulai ketika ia diminta Sarah menjauhkan Ismail dan ibunya dari rumahnya. Kemudian setelah dipenuhi permintaannya, anaknya yang sudah beranjak dewasa harus disembelih atas perintah Allah SWT yang disampaikan lewat mimpi.

Awalnya ia tidak percaya, sehingga mimpi itu terulang sampai tiga kali. Ayah mana yang tega menyembelih anaknya sendiri. Ia harus memilih perintah Allah SWT atau mempertahankan anaknya dengan konsekuensi mengabaikan perintah Allah SWT. Akhirnya dengan ketaatan yang tinggi, perintah Allah dilaksanakan. Subhanallah.

Seperti ayahnya, Ismail pun pasrah dengan perintah menyembelih dirinya. Asalkan benar-benar perintah Allah, ia mau melakukannya. Ia berkata, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar”. Kepasrahan luar biasa yang ditunjukkan seorang remaja.

Mereka berdua telah memperlihatkan bahwa Allah di atas segala-galanya. Kecintaan pada anak dan ayah tidak boleh menghalangi ketaatan kepada Allah. Wajarlah kiranya kalau Allah menjadikan Ibrahim sebagai model yang patut kita teladani, Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4)

Apa hikmahnya bagi kita? Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksankan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.

Idul Adha adalah momentum menumbuhsuburkan rasa rasa kasih sayang di antara sesama. Idul Adha harus kita manfaatkan sebagai momentum menyambungkan tali silaturahmi, melatih kepekaan, empati, dan mengikis kebencian di hati. Inilah pesan indah yang dicanangkan dua manusia agung; Ibrahim Khalilullah dan Muhammad SAW.

Dalam dimensi kekinian, kurban membawa penyegaran tentang prinsip ketulusan dan kepedulian sosial secara konkret dan benar. Karena Alquran, surat Al-Hajj: 37 menjelaskan: “Sekali-kali Allah tidak akan menerima daging atau darah hewan kurban, tetapi yang diterima Allah adalah sikap taqwa yang menyemangati berkurban itu. Demikianlah Allah menciptakan hewan-hewan kurban itu agar kalian selalu mengagungkan Allah dan mensyukuri hidayah-Nya kepada kalian semua, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Maka, realisasi semangat berkurban adalah upaya untuk selalu menghadirkan sifat taqwa, yang menurut Alquran merupakan kata kunci tentang keunggulan umat manusia. Dalam surat Al-Hujurat, Allah menegaskan:
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Allah menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling utama di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.”

Berkurban mengandung dua makna penguat komitmen manusia yang bertaqwa. Ada makna pengorbanan dalam bentuk pengeluaran infaq dan shadaqah untuk membeli hewan kurban dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, yang mengandung dimensi keikhlasan dan keihsanan. Berkurban juga bermakna hadirnya taqarrub (kedekatan) kepada sesama umat manusia. Baik sebagai jalinan silaturahim, juga bentuk kepedulian sosial yang konkret berupa distribusi daging kurban kepada para dhuafa.

Wahai Saudaraku, sudahkah kita ber-azzam (berkomitmen) untuk dapat meneladani hakikat pengorbanan yang telah dicontohkan nabi Ibrahim dan Ismail dalam kehidupan kita sehari-hari?

Incoming search terms:

  • www zahrasprei com makna-sebuah-pengorbanan
  • zahrasprei com makna-sebuah-pengorbanan
  • apa arti beglance
  • makna bantuan dan pengorbanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>