Pintu Kemenangan Dakwah

Spread the love

Bagaimanapun, tak ada tujuan yang mulia, melainkan pasti di dalamnya selalu ada kesulitan yang tak terbilang banyaknya, mirip seperti kisah Nabiyulloh Ibrahim as. Beliau yang cintanya dan komitmennya kepada perintah Alloh swt tak perlu diragukan lagi, walau ujian menuju Mardhotillah itu tidak gampang, kita pasti akan diuji lewat 3 pintu gerbang, dan setiap pintu Gerbang sudah menanti Iblis berikut pasukannya disana. Apakah pintu menanjak (Aqobah) menuju Mardhotillah itu?

1. ISTRI

Saat Ibrahim asa mendapat perintah menyembelih Ismail as, iistri lah yang digempur oleh Iblis terlebih dahulu. Laksana Bom Atom
terdengar di telinga Siti hajar, seorang Ayah akan menyembelih anaknya.
Setega itukah? Namun Siti Hajar memiliki sensor parabola langit yang peka.

Hatinya sudah kenyang dengan ujian seperti ini. Ini hanya pembuktian
semata, bahwa cinta kepada Alloh adalah laksana Mahkota di Puncak Gunung, yang mesti dicapai dengan pengorbanan, keikhlasan, kesabaran dan keteguhan.

Belum panjang lebar Iblis menguraikan niat sang suami, Siti Hajar sudah
melempar Iblis dengan batu, berkali-kali, bukan hanya sekali, setiap kali
Iblis nekad mendekati sang Istri, maka Siti hajar lebih geram lagi untuk
melempar. Keimanan, keyakinan akan janji Alloh di dunia dan akhirat jika sudah menembus lubuk hati terdalam, takkan pernah bisa digoyahkan. Siti Hajar lulus. Kini apa yang dia kerjakan, menjadi ritual wajib jamaah Haji.

Sayang jamaah Haji kita banyak yang tidak menyadari pelajaran di dalamnya. Haji seolah sudah menjadi ritual Bisnis, Shopping, Temu Kangen, padahal ada pengorbanan seorang ibu yang tiada tara disana. Ikhlas dan sabar membiarkan sang suami mengeksekusi anak yang dia lahirkan. Adakah ibud di dunia ini yang setegar dan sesabar Siti Hajar? Adakah ibu yang tegar saat menyaksikan anaknya pergi ke medan jihad seperti yang dialami oleh Khansa yang melepas kematian 3 anaknya dengan tabah? Inilah pintu kemenangan dakwah pertama. Peran seorang Ibu.

2. ANAK

Ibu sudah melesaikan tugasnya dengan baik. Sempurna, namun disana ada sosok anak yang masih bisa dipermainkan, dibodohi, ditipu, ditakut-takuti, apalagi jika berbau kematian, tentu ini senjata empuk. Demikian kata Iblis, namun Iblis lupa, Ismail dididik oleh seorang Ibu yang setegar batu karang, ketabahannya saat Ismail masih bayi, kehausan, dia berlari antara Bukit Shafa dan Marwa sebanyak 7 kali, bukanlah sembarang
Ibu yang mendidik anaknya. Jika ibunya saja sekeras itu, maka apakah
mungkin anaknya selembek itu. Anak Singa, walaupun dia hanya anak, namun dia tetaplah Singa. Raja Hutan yang ditakuti semua binatang. Iblis salah perhitungan. Anak Singa didatangi. Makin kokohlah kemenangan itu datang.

Makin kuatlah ia tertancap dalam diri. Dan kini Iblis mesti merasakan
lontaran dari orang yang kedua. Ismail as. Manusia yang kata-katanya
dicatat oleh Alloh swt, kata-kata yang keluar sebagai bentuk kepasrahan
cinta seorang hamba untuk menjalankan perintah Alloh, kata-kata yang selaludiulang-ulang oleh para Khatib Idul Adha di seluruh dunia. “Satajiduni Insya Alloh Minash Shobirin – Insya Alloh engkau (wahai ayah dan bunda) akan menemukan aku dalam keadaan sabar menghadapi kematian ini. Dan Ismail as sudah tahu, bahwa dia akan menemui kematian, itulah yang pasti akan terjadi, namun ini tidak akan terjadi, jika kunci terakhir yang ada pada Nabi Ibrahim as bisa digagalkan oleh Iblis. Inilah episode kedua kemenangan dakwah ini. Peran anak. Inilah pesan terberat bagi seorang Ibu dan Ayah.

Anak, namun cinta kepada Allo telah membuat segalanya menjadi mudah, toh jika anak itu mati karena menjalankan perintah Alloh, niscaya dialah yang menyambut di pintu Syurga, kedua orang tuanya, sebelum yang lain-lain menyambutnya dengan suka cita.

3. AYAH

Inilah kunci terakhir kemenangan. Peran ayah sangat penting disini. Jika Ayah dikatakan kunci, maka inilah yang dikatakan oleh Ayah Imam Syafi’i saat ditanya orang banyak, bagaimana cara mendidik Imam Syafi’i hingga bisa seperti itu, ternyata jawaban ayahnya sederhana, “Aku didik Ibunya”. Maka jangan sampai momen Tahajjud bareng antara Suami Istri
di Malam hari kering dari dialog, diskusi, obrolan kecil, menanyakan  abar
dan kondisi hari itu seraya memompa semangat istri, agar selalu segar
menghadapi esok pagi. Tipu daya iblis menemui kegagalan saat Ibrahim as
hendak digoda, jangankan menyelesaikan hasutannya kepada Ibrahim as, belum sempat usai kalimat rayuan Iblis kepada Ibrahim as, batu-batu telah melayang menghampiri Iblis.

Inilah 3 pilar kemenangan dakwah, segalanya mesti berawal dari rumah. Jika rumah-rumah kader dakwah laksana Madrasah Tauhid, Madrasah Iman, Madrasah Quran, Madrasah Qiyamul Lail, Madrasah Sedekah Fi Sabilillah, Madrasah Sabar, Madrasah tsabat, maka tak satupun kekuatan yang mampu membendungnya.

Note: Tulisan ini disalin sebagian dari tulisan Muttaqien Kholilulloh.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *